25.10.2026

Anak Zaman Sekarang Dinilai Makin Buruk, Ini Kata Riset

Riset di Science Advances menemukan penilaian bahwa anak zaman sekarang makin buruk bisa dipengaruhi keunggulan pribadi dan ingatan orang dewasa tentang masa lalu.

anak-zaman-sekarang-dinilai-makin-buruk-ini-kata-riset

Keluhan bahwa anak zaman sekarang kurang sopan, tak suka membaca, atau tidak secerdas generasi sebelumnya ternyata bukan semata-mata cerminan perubahan pada anak. Penelitian yang terbit di jurnal Science Advances pada 2019 menemukan bahwa penilaian orang dewasa juga dapat dipengaruhi keunggulan pribadi dan ingatan yang bias tentang masa muda mereka sendiri.

Fenomena ini disebut kids these days effect: kecenderungan orang dewasa menganggap generasi muda saat ini memiliki kualitas lebih buruk dibandingkan generasi mereka ketika masih kecil. John Protzko dan Jonathan W. Schooler mengujinya melalui lima penelitian yang telah didaftarkan sebelumnya, dengan total ribuan partisipan.

Para peneliti berfokus pada tiga hal yang kerap menjadi bahan keluhan lintas generasi: rasa hormat kepada orang yang lebih tua, kecerdasan, dan kesukaan membaca. Secara umum, peserta memang cenderung menilai anak-anak masa kini mengalami kemunduran. Namun, pola penilaian itu ternyata lebih kuat pada bidang yang menjadi keunggulan orang yang memberi penilaian.

Penilaian tentang anak zaman sekarang mengikuti keunggulan pribadi

Dalam penelitian pertama, 1.824 orang dewasa di Amerika Serikat diminta membandingkan rasa hormat anak-anak masa kini kepada orang yang lebih tua dengan rasa hormat ketika mereka sendiri masih kecil. Mayoritas penilaian mengarah pada anggapan bahwa anak-anak sekarang kurang menghormati orang yang lebih tua.

Akan tetapi, keyakinan itu tidak tersebar merata. Peserta yang lebih menghormati otoritas juga lebih kuat meyakini bahwa generasi muda semakin tidak menghormati orang yang lebih tua. Dengan kata lain, orang cenderung lebih peka melihat kekurangan pada aspek yang mereka anggap penting atau menjadi kekuatan mereka sendiri.

Pola serupa muncul dalam penilaian terhadap kecerdasan. Orang-orang dengan kemampuan lebih tinggi dalam tes kosakata justru lebih mungkin percaya bahwa anak-anak sekarang semakin tidak cerdas. Padahal, penelitian tersebut mencatat bahwa kecerdasan anak-anak di Amerika Serikat menunjukkan peningkatan dalam beberapa dekade terakhir.

Kesimpulan serupa ditemukan dalam urusan membaca. Dari 1.500 orang dewasa yang diteliti, mereka yang lebih banyak membaca lebih mungkin menganggap anak-anak masa kini tidak menyukai membaca seperti generasi mereka dahulu. Hubungan itu tetap terlihat setelah usia dan orientasi politik diperhitungkan.

Ingatan masa muda bisa mengubah cara melihat generasi baru

Para peneliti mengajukan penjelasan lain: manusia tidak selalu mengingat masa lalu secara netral. Seseorang dapat menilai masa kecilnya berdasarkan kualitas yang ia miliki sekarang. Orang yang saat ini gemar membaca, misalnya, mungkin membayangkan dirinya dan teman-temannya dahulu juga sangat suka membaca.

Ingatan yang telah dipengaruhi cara seseorang melihat dirinya kini kemudian menjadi pembanding bagi anak-anak yang ia amati. Perbandingan itu tidak sepenuhnya setara: kondisi generasi muda dinilai berdasarkan apa yang terlihat saat ini, sedangkan masa lalu dikenang melalui gambaran yang mungkin sudah berubah. Hasilnya, perbedaan dapat terasa seperti kemunduran.

Gagasan tersebut diuji dalam penelitian kelima yang melibatkan 1.500 orang dewasa Amerika. Peserta secara acak diberi informasi palsu bahwa kemampuan membaca mereka berada di kelompok 15 persen teratas atau terbawah populasi. Perubahan sederhana pada persepsi diri itu memengaruhi cara mereka mengingat kegemaran membaca saat kecil, lalu secara tidak langsung memengaruhi penilaian terhadap anak-anak masa kini.

Keluhan tentang generasi muda berulang selama berabad-abad

Temuan ini bukan berarti setiap kritik kepada anak muda pasti keliru. Peneliti mengakui kemunduran nyata bisa saja terjadi pada bidang tertentu. Namun, hasil studi menunjukkan bahwa sebagian anggapan tentang generasi muda mungkin lebih banyak dipengaruhi cara orang dewasa menilai dirinya sendiri dan mengenang masa lalu.

Keluhan bahwa generasi muda semakin buruk juga bukan hal baru. Pola itu tercatat setidaknya sejak 624 SM. Jika anggapan serupa terus berulang selama ribuan tahun, para peneliti menilai kecil kemungkinan seluruh generasi manusia benar-benar mengalami kemunduran tanpa henti.

Karena itu, sebelum menyimpulkan bahwa anak zaman sekarang lebih buruk daripada generasi terdahulu, ada baiknya memeriksa kembali dasar perbandingannya. Bisa jadi yang berubah bukan hanya perilaku anak-anak, melainkan juga cara orang dewasa mengingat masa muda dan menilai keunggulan mereka sendiri.

Garisnegeri