25.10.2026

Falcon 23-4M, Meriam ZU-23-2 untuk Memburu Drone

Falcon 23-4M Lightning menggabungkan empat dudukan ZU-23-2, radar BIRD, sensor elektro-optik, dan kendali digital untuk menghadapi drone. Spesifikasinya masih dalam tahap validasi.

falcon-23-4m-meriam-zu-23-2-memburu-drone

Falcon Dynamic Systems memperkenalkan Falcon 23-4M Lightning, sistem pertahanan udara jarak pendek yang menggabungkan empat dudukan meriam ZU-23-2 dengan radar dan kendali digital. Sistem buatan perusahaan teknologi yang beroperasi di Turki itu dipamerkan di ajang pertahanan ADEX 2026 di Baku, dengan sasaran utama kendaraan udara tak berawak atau drone.

Alih-alih mengganti meriam lama dengan persenjataan baru, Falcon 23-4M menyatukan empat dudukan ZU-23-2 dalam satu platform. Perusahaan merancang integrasi tersebut untuk menghadapi serangan drone dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan penggunaan rudal antipesawat.

Empat dudukan ZU-23-2 dengan delapan laras

Keempat dudukan meriam dipasang pada trailer multi-gandar yang dilengkapi penstabil hidrolik. Setiap dudukan membawa dua meriam otomatis kaliber 23 milimeter. Jika seluruhnya dihitung, platform ini memiliki delapan laras.

Dalam mode tembakan pendek yang dikendalikan sistem terpusat, laju tembakan gabungannya diklaim mencapai sekitar 3.200 hingga 4.000 butir per menit. Angka itu menggambarkan kemampuan menumpahkan banyak peluru dalam waktu singkat, meski sistem tidak dimaksudkan untuk menembak tanpa kendali atau terus-menerus.

Amunisinya menggunakan standar 23×152 mmB, termasuk peluru pembakar tipe pelacak dan peluru penembus lapis baja. Pilihan ini memungkinkan penggunaan jenis amunisi yang sudah tersedia di banyak negara yang pernah mengoperasikan ZU-23-2.

Meriam ZU-23-2 merupakan senjata antipesawat yang berasal dari era Soviet. Dalam bentuk awal, senjata ini mengandalkan awak untuk mengamati sasaran dan mengarahkan laras secara manual. Pada Falcon 23-4M, perubahan utama bukan hanya penambahan jumlah laras, melainkan penggabungan persenjataan lama dengan sensor serta sistem kendali yang terintegrasi.

Radar, sensor elektro-optik, dan kendali tembakan

Radar BIRD bertugas mengawasi ruang udara dan membantu menemukan sasaran pada tahap awal. Setelah itu, sensor elektro-optik dan inframerah dapat digunakan untuk memastikan serta melacak target, termasuk pada siang maupun malam hari. Pelacakan pasif juga menjadi bagian dari kemampuan sensor tersebut.

Informasi dari radar dan sensor diteruskan ke sistem Falcon Eye Air Guard. Sistem kendali tembakan ini dirancang untuk menghitung lintasan, membagi sasaran di antara dudukan meriam, dan mengatur penembakan secara otomatis. Dengan begitu, pengoperasian tidak sepenuhnya bertumpu pada pembidikan manual oleh awak.

Integrasi tersebut ditujukan untuk mengatasi salah satu keterbatasan ZU-23-2 dalam menghadapi drone: kesulitan mendeteksi dan mengikuti sasaran yang kecil, terbang rendah, serta bergerak tak terduga. Perangkat digital dan sensor memberi sistem lebih banyak informasi sebelum meriam diarahkan ke sasaran.

Menurut spesifikasi yang disampaikan pabrikan, Falcon 23-4M dapat menyerang target yang bergerak hingga 650 kilometer per jam. Jarak maksimumnya disebut mencapai 2,5 kilometer, dengan batas ketinggian hingga 1.000 meter. Namun, angka-angka itu masih perlu divalidasi.

Dirancang untuk melindungi titik-titik penting

Platform bergerak berbasis trailer memungkinkan sistem dipindahkan dan ditempatkan di lokasi yang dinilai penting. Contoh yang disebut mencakup bandara, depo logistik, dan pusat komando. Pabrikan juga menyediakan konfigurasi tetap, sehingga penggunaan sistem tidak terbatas pada pemasangan bergerak.

Falcon 23-4M Lightning disebut telah dikirim ke Azerbaijan sejak 2025 untuk proses integrasi dan pengujian. Informasi yang tersedia tidak merinci hasil pengujian tersebut, sehingga kemampuan operasionalnya belum dapat disimpulkan hanya dari spesifikasi yang diumumkan.

Pemanfaatan meriam lama dengan radar, sensor elektro-optik, dan kontrol terpusat menunjukkan pendekatan modernisasi yang berfokus pada peningkatan kemampuan, bukan semata-mata mengganti seluruh persenjataan. Artileri 23 milimeter dapat melepaskan banyak peluru dengan biaya per tembakan yang lebih rendah daripada rudal antipesawat—pertimbangan yang relevan ketika menghadapi banyak drone berharga murah.

Komprominya adalah jangkauan dan ketinggian Falcon 23-4M tetap terbatas dibandingkan sistem rudal atau artileri yang lebih modern. Karena itu, sistem ini lebih tepat dipahami sebagai salah satu lapisan pertahanan jarak dekat, bukan pengganti seluruh kemampuan pertahanan udara. Validasi spesifikasi dan hasil pengujian akan menjadi penentu penting untuk menilai seberapa efektif penggabungan senjata lama dan teknologi baru ini di lapangan.

Garisnegeri