25.10.2026

Kanada Simulasikan Skenario Invasi AS, Seberapa Mungkin?

Kanada memperhitungkan skenario serangan militer AS sebagai langkah manajemen risiko, meski para pakar menilai kemungkinan invasi langsung sangat kecil.

kanada-simulasikan-skenario-invasi-as

Kanada mulai memperhitungkan kemungkinan serangan militer Amerika Serikat, meski peluang invasi itu dinilai sangat kecil. Perdana Menteri Mark Carney menyebut persiapan tersebut sebagai manajemen risiko di tengah perubahan hubungan kedua negara di bawah kepresidenan Donald Trump.

Dalam wawancara dengan The New York Times, Carney mengatakan pemerintahnya bertanggung jawab untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan. “Itu hanya manajemen risiko,” ujarnya. Ia tidak merinci bentuk persiapan yang dilakukan Ottawa.

Ketegangan meningkat setelah Trump menetapkan tarif global dan berulang kali menyampaikan gagasan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS. Situasi itu mendorong militer Kanada menyimulasikan kemungkinan serangan dari negara yang selama ini menjadi sekutu dekatnya.

Mengapa Kanada memperhitungkan serangan AS?

Trump pernah mengatakan kemungkinan AS menggunakan kekuatan militer terhadap Kanada sangat kecil. Namun, ia menegaskan tekanan ekonomi akan terus digunakan untuk mencapai tujuan politik. Gedung Putih, dalam pernyataan kepada BBC, menyebut Trump telah melakukan banyak hal untuk melindungi warga Kanada.

Para pakar militer yang diwawancarai BBC juga menilai invasi langsung sangat tidak mungkin. Salah satu alasannya adalah hubungan pertahanan yang telah lama terjalin. Kanada dan AS sama-sama anggota NATO, bekerja sama dalam pertahanan kawasan Arktik melalui North American Aerospace Defence Command (NORAD), serta kerap berbagi informasi intelijen.

Letnan Jenderal Christopher Coates, mantan perwira Angkatan Udara Kanada yang mengabdi selama 34 tahun, mengatakan kemungkinan perang antara kedua negara sulit dibayangkan. Sepanjang kariernya, ia tidak pernah mempertimbangkan serangan militer yang datang dari wilayah AS.

Meski begitu, Coates menilai ancaman tidak selalu hadir dalam bentuk serangan bersenjata. Menurut dia, operasi siber dapat menjadi cara yang lebih terselubung untuk menyerang. Penilaian ini mencerminkan rumitnya hubungan kedua negara: kerja sama pertahanan tetap berlangsung, sementara pemerintah Kanada merasa perlu mengantisipasi risiko yang sebelumnya nyaris tak terpikirkan.

Sejarah panjang kekhawatiran terhadap ekspansionisme

Kecurigaan Kanada terhadap kemungkinan ekspansi AS memiliki akar sejarah. Tim Foran, peneliti di Canadian War Museum, mengatakan ketakutan terhadap Amerika Serikat menjadi salah satu fondasi proyek politik yang kemudian membentuk Kanada.

Kanada berkembang dari koloni-koloni Inggris di Amerika Utara yang tetap setia kepada Britania Raya ketika koloni lain memberontak dan membentuk Amerika Serikat. Sebelum Kanada berdiri, pasukan AS pernah mencoba merebut wilayah koloni Inggris. Pada 1775, mereka menguasai Montreal dan nyaris merebut Kota Quebec.

Upaya serupa berlanjut dalam Perang 1812. Pasukan Amerika berulang kali menyerang wilayah yang saat itu dikenal sebagai Upper Canada, Lower Canada, dan koloni-koloni maritim. Serangan tersebut gagal. Dalam perang itu, pasukan Inggris juga membakar Gedung Putih sebagai aksi balasan.

Setelah Perang Dunia I, Kanada kembali menyusun rencana menghadapi kemungkinan konflik dengan AS, seiring meningkatnya kekuatan dan pengaruh negara tetangganya. Sejumlah jenderal Kanada melakukan perjalanan rahasia ke kota-kota perbatasan dengan menyamar sebagai wisatawan. Mereka memotret jembatan dan jalan raya serta berbicara dengan penduduk setempat untuk mengumpulkan informasi.

Andrew Burtch, peneliti Canadian War Museum yang mendalami sejarah Kanada abad ke-20, mengatakan perang saat itu tetap dianggap tidak mungkin. Namun, militer memang bertugas membayangkan dan menyiapkan diri untuk beragam skenario.

Ketegangan baru membebani warga Kanada

Perhitungan pertahanan kali ini berlangsung di tengah kekhawatiran publik. Jajak pendapat Leger pada Januari, setelah AS menangkap Nicolás Maduro di Venezuela, menunjukkan lebih dari 30 persen warga Kanada menganggap invasi AS mungkin terjadi.

Matthew Schmidt, profesor madya bidang keamanan nasional di University of New Haven, Connecticut, menilai pembahasan tersebut menunjukkan betapa besar perubahan tatanan global. Bagi sebagian warga AS, ucapan Trump tentang Kanada sebagai negara bagian ke-51 mungkin tidak dianggap serius. Di Kanada, pernyataan itu dipandang berbeda karena datang bersamaan dengan tekanan ekonomi dan perubahan hubungan bilateral.

Persiapan militer tidak dengan sendirinya berarti Ottawa memperkirakan perang akan terjadi. Namun, langkah itu menandai bahwa Kanada tak lagi menganggap semua skenario bisa dikesampingkan begitu saja. Di tengah eratnya kerja sama pertahanan dan meningkatnya ketegangan politik, tantangan bagi pemerintah Carney adalah menjaga hubungan dengan sekutu terdekatnya sembari memastikan negaranya siap menghadapi risiko yang paling tidak diharapkan.

Garisnegeri