Saham BUMN Menguat Serentak, PGEO Melonjak 19,28%
Sebanyak 20 saham BUMN menguat pada penutupan 20 Oktober 2026. PGEO memimpin kenaikan, sementara rebound IHSG didukung sentimen Danantara dan langkah reformasi pasar.
Saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kompak menguat pada penutupan perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memimpin kenaikan dengan lonjakan 19,28 persen, seiring rebound tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pasar tertekan dalam beberapa hari sebelumnya.
Data Stockbit menunjukkan 20 saham BUMN dan anak usahanya yang aktif diperdagangkan berakhir di zona hijau. Enam saham lainnya tidak bergerak karena masih berstatus suspensi. Penguatan tersebar di berbagai sektor, mulai dari energi dan tambang hingga perbankan serta telekomunikasi.
PGEO pimpin kenaikan saham BUMN
PGEO ditutup di harga Rp990 per saham setelah naik 19,28 persen. Di belakangnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melesat 16,38 persen ke Rp2.060, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,29 triliun. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) juga menguat 11,86 persen ke Rp66.
Sejumlah emiten tambang dan energi pelat merah ikut mencatat kenaikan dua digit. PT Timah Tbk (TINS) naik 10,65 persen ke Rp3.740, PT Elnusa Tbk (ELSA) menguat 10,53 persen ke Rp630, sedangkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bertambah 10,48 persen ke Rp2.740. Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) turut naik 10 persen ke Rp44.
Penguatan besar juga terlihat pada saham bank BUMN. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melonjak 9,84 persen ke Rp2.790, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 9,82 persen ke Rp3.690. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menguat 8,78 persen ke Rp3.220.
BBRI menjadi saham BUMN dengan nilai transaksi terbesar, yakni Rp1,87 triliun, dan tercatat berpindah tangan sebanyak 116.590 kali. Secara keseluruhan, transaksi pada 20 saham BUMN mencapai sekitar Rp6,34 triliun. BBRI, BMRI, dan TLKM menyumbang hampir Rp4,6 triliun.
Rebound IHSG dan sentimen Danantara
Penguatan saham pelat merah terjadi bersamaan dengan kenaikan IHSG sebesar 5,65 persen ke level 5.278,89. Indeks bertambah 282 poin dengan nilai transaksi sekitar Rp26,51 triliun. Sektor infrastruktur menjadi penggerak utama setelah naik 8,8 persen, disusul sektor keuangan yang menguat 6,4 persen dan material dasar sebesar 4,6 persen.
Salah satu sentimen yang diperhatikan investor adalah pernyataan Danantara mengenai kemungkinan menambah kepemilikan pada saham BUMN dengan fundamental kuat. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menyatakan kesiapan tersebut. Pernyataan itu memberi sinyal kepada pasar bahwa ada potensi pembeli besar ketika harga saham BUMN terkoreksi dalam.
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menilai kinerja perusahaan di bawah naungan Danantara solid, sementara valuasi sahamnya telah murah. Ia menyebut Danantara melihat kondisi tersebut sebagai peluang investasi jangka panjang dan berencana masuk ke pasar saham secara bertahap.
Rosan mencontohkan saham perbankan yang rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV)-nya rata-rata berada di bawah satu kali. Menurutnya, hal itu menarik karena kondisi perbankan nasional dinilai sehat dan menawarkan dividen yang menarik.
Tekanan pasar belum sepenuhnya hilang
Rebound tersebut datang setelah pasar mengalami tekanan tajam. Kekhawatiran muncul pekan sebelumnya ketika MSCI membuka peluang menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pada Jumat, 16 Oktober 2026, IHSG anjlok 11,57 persen, lalu kembali turun 3,64 persen pada Senin ke level 4.996,61.
Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons dengan mengumumkan dua inisiatif: menambahkan informasi hubungan afiliasi pada publikasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, serta mengeluarkan saham berstatus High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Presiden Prabowo Subianto juga meminta OJK bertindak tegas terhadap pelanggaran pasar modal, terutama praktik coordinated trading.
Di tengah penguatan, beberapa saham BUMN masih belum dapat diperdagangkan karena suspensi. Saham tersebut meliputi ADHI, INAF, PTPP, WIKA, WSBP, dan WSKT. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) naik 5,88 persen ke Rp900, bertepatan dengan keterangan manajemen bahwa opsi pembelian kembali saham sedang dikaji.
Perkembangan berikutnya menunjukkan aksi korporasi masih menjadi perhatian emiten. Pada Rabu, 21 Oktober 2026, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) menyatakan membuka ruang kajian atas potensi buyback, dengan mempertimbangkan kebutuhan likuiditas dan rencana ekspansi operasional. Perseroan menegaskan opsi tersebut masih dievaluasi, bukan keputusan final.
Pelaku pasar tetap perlu mencermati apakah penguatan dapat bertahan. Konsultasi MSCI mengenai reklasifikasi pasar masih berlangsung hingga April 2027, dengan keputusan akhir paling lambat diumumkan pada 30 Juni 2027. Konsistensi reformasi, keterbukaan informasi, dan penegakan aturan akan menjadi perhatian penting dalam perjalanan pasar modal Indonesia ke depan.
