25.10.2026

Berlliana Lovell Syok Usai Dugaan Pelecehan di Live TikTok

Berlliana Lovell mengaku syok setelah menerima ucapan yang ia nilai tidak pantas saat live TikTok bersama akun Jelangskuy. Ia menceritakan awal percakapan hingga pertanyaan yang membuatnya tidak nyaman.

berlliana-lovell-syok-dugaan-pelecehan-live-tiktok

Selebgram Berlliana Lovell mengaku syok setelah mengalami dugaan pelecehan verbal saat siaran langsung TikTok bersama kreator konten bernama Amat “Jelangskuy”. Dalam sesi yang semula ia kira akan berlangsung santai itu, Berlliana merasa direndahkan oleh ucapan lawan bicaranya dan nyaris menangis.

Manajer sekaligus kuasa hukum Berlliana, Nanda Persada, mengatakan kliennya tidak menyangka percakapan dalam live tersebut akan mengarah pada ucapan yang dinilai tidak pantas. Nanda menyampaikan hal itu saat ditemui di Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (15/10/2026).

Menurut Nanda, Berlliana berusaha menahan emosi ketika menghadapi perkataan tersebut. Ia menyebut kliennya sempat hampir menangis, terutama karena berulang kali berusaha memahami maksud ucapan yang disampaikan lawan bicaranya.

“Responsnya itu sebenarnya dia sebenarnya menahan untuk tidak emosi dan tadi sudah mau menangis di situ karena berkali-kali Belly itu tanyakan gitu. ‘Mood, mood itu apa maksudnya?’” ujar Nanda.

Awalnya Berlliana mengira live akan berlangsung santai

Berlliana menjelaskan, kejadian itu bermula ketika ia melakukan siaran langsung TikTok seperti biasa. Dalam beberapa minggu terakhir, ia mencoba fitur tersebut untuk berinteraksi dan bercanda dengan para pengikutnya.

Pada kesempatan itu, seorang pengguna akun bernama Jelangskuy mengajaknya melakukan live bersama. Berlliana menerima ajakan tersebut karena mengira percakapan mereka akan berlangsung biasa saja. Ia menyebut belum mengenal akun itu sebelumnya.

“Orang random. Dia yang ngajakin gitu, siapa sih Jelangskuy gitu, si akun itunya ya. Dia ngajakin, habis itu aku approve,” tutur Berlliana.

Berlliana mengatakan ia sempat menutupi wajah sebelum akhirnya membuka wajah dan menyapa lawan bicaranya dengan baik. Ia juga menegaskan tidak berniat mengejek penampilan fisik orang yang mengajaknya live.

Menurut Berlliana, komentar jahil memang bisa muncul di media sosial. Namun, ia mengatakan hal itu tidak membuatnya ingin membalas dengan menghina atau menertawakan kondisi fisik orang lain. Ia menyebut tidak mengucapkan apa pun dengan maksud seperti itu selama percakapan.

Pertanyaan soal tato membuatnya tidak nyaman

Situasi berubah ketika percakapan beralih pada tato kupu-kupu. Berlliana mengaku mendapat komentar yang memintanya bertanya soal tato tersebut, padahal ia menyatakan tidak memiliki tato.

“Ada satu komenan, ‘Kak, ke akun yang sana, suruh tanya, tanya tato kupu-kupu’, tapi di sini aku tidak punya tato,” ujar Berlliana.

Ia kemudian mengatakan lawan bicaranya menanyakan keberadaan tato itu secara langsung dan meminta untuk melihatnya. Berlliana menilai pertanyaan tersebut sudah melewati batas kepantasan dalam percakapan mereka.

“Kak, mana tato kupu-kupunya? Lihat dong,” kata Berlliana, mengingat ucapan yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Berlliana mengaku masih mencoba mengabaikan perkataan tersebut pada awalnya. Namun, menurut penuturannya, kemudian muncul ucapan lain yang ia nilai mengarah pada hal tidak pantas. Ia beberapa kali menanyakan maksud ucapan itu karena tidak langsung memahami arah pembicaraan lawan bicaranya.

Dalam cerita yang disampaikan Berlliana, keberatan itu bukan muncul karena ia merasa berhak mengatur percakapan, melainkan karena pertanyaan tersebut dianggap tidak pantas dilontarkan kepadanya. Ia menegaskan sikapnya sejak awal adalah menyapa dan berbincang tanpa menilai penampilan orang yang mengajaknya live.

Berlliana mengaku berusaha menahan emosi

Pengalaman tersebut membuat Berlliana terkejut, terlebih ia mengaku belum terlalu memahami fitur-fitur dalam siaran langsung. Nanda menyebut kliennya tidak menyangka interaksi yang awalnya berjalan biasa bisa berubah menjadi pengalaman yang membuatnya merasa direndahkan.

Rasa tidak nyaman itu, menurut Nanda dan Berlliana, tampak dari upaya Berlliana meminta penjelasan atas ucapan yang ia dengar. Ia tidak langsung memahami maksud perkataan tersebut, tetapi berulang kali bertanya. Nanda menyebut momen itu membuat Berlliana hampir menangis.

Kasus ini menjadi perhatian karena terjadi dalam interaksi live, ketika percakapan berlangsung langsung antara para pengguna. Namun, dari keterangan yang tersedia, inti cerita Berlliana adalah pengalamannya sendiri: ia merasa sejumlah ucapan tidak pantas dan berusaha mencari tahu maksudnya saat siaran berlangsung.

Berlliana juga menyampaikan batas yang ia harapkan dalam percakapan tersebut dengan menekankan bahwa dirinya tidak berniat menyerang fisik lawan bicara. Penjelasan itu menjadi bagian dari kronologi yang ia ceritakan setelah mengaku mengalami dugaan pelecehan verbal.

Di tengah meningkatnya penggunaan fitur siaran langsung untuk berinteraksi, pengalaman Berlliana mengingatkan bahwa percakapan spontan tetap membutuhkan sikap saling menghormati. Bagi pengguna, menjaga batas dalam bertanya dan menanggapi orang lain menjadi penting, terutama ketika interaksi berlangsung di ruang digital yang disaksikan secara langsung.

Garisnegeri