Kopi Susu Manis Bisa Ganggu Diet, Ini Alasannya
Kopi susu manis dapat menyumbang ratusan kalori yang sering luput dari hitungan diet. dr. Diana Suganda mengingatkan pentingnya mengurangi pemanis dan mencukupi asupan protein.
Kopi susu manis yang diminum setiap hari bisa menambah asupan kalori tanpa disadari dan membuat upaya menurunkan berat badan terganggu. Spesialis gizi klinik dr. Diana Suganda mengingatkan, gula, sirop, krimer, dan topping pada kopi kekinian dapat menyumbang ratusan kalori dalam satu gelas.
Dalam edukasi yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, @dianasuganda, dr. Diana menceritakan seorang pasien yang berat badannya naik 6,5 kilogram dalam enam bulan. Pasien tersebut merasa sudah menjaga pola makan, tetapi terbiasa minum kopi manis satu hingga dua gelas setiap hari.
Kasus itu menggambarkan bagaimana kalori dari minuman kerap luput dihitung. Seseorang mungkin sudah mengurangi porsi makan, tetapi asupan energi dari kopi manis tetap bertambah di sela-sela waktu makan.
Kalori kopi kekinian kerap luput dihitung
Menurut dr. Diana, satu gelas kopi susu kekinian yang rasanya manis dapat mengandung sekitar 200 hingga 300 kalori. Jumlah tersebut berasal dari tambahan gula dan bahan lain, bukan semata-mata dari kopi. Karena itu, pilihan racikan minuman ikut menentukan seberapa besar asupan kalori yang masuk.
Jika diminum dua kali sehari, kopi manis dapat menambah sekitar 200 hingga 400 kalori dari minuman saja, sebagaimana dijelaskan dr. Diana. Angka itu belum memperhitungkan makanan yang dikonsumsi setelahnya. Kalori cair bisa terasa kurang mengenyangkan dibandingkan makanan yang memberi asupan zat gizi lain, sehingga seseorang tidak selalu menyadari jumlah yang sudah dikonsumsi.
Di sinilah kebiasaan ngopi dapat membuat perhitungan diet meleset. Seseorang bisa merasa telah membatasi makanan, tetapi tidak memasukkan minuman manis ke dalam hitungan hariannya. Jika berlangsung terus, tambahan tersebut berpotensi berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.
Rasa kenyang setelah ngopi tidak selalu bertahan
Dr. Diana menjelaskan bahwa kopi dapat memberi efek menekan nafsu makan untuk sementara pada sebagian orang. Kafein juga dapat memengaruhi metabolisme dan rasa lapar, tetapi efek tersebut bukan berarti minum kopi berlebihan akan mempercepat penurunan berat badan.
Rasa kenyang yang muncul setelah meminum kopi manis juga perlu dipahami dengan tepat. Gula memberikan energi, tetapi minuman itu tidak otomatis memenuhi kebutuhan protein. Menurut dr. Diana, ketika asupan protein tidak tercukupi, seseorang dapat kembali mencari makanan atau camilan setelah minum kopi.
“Rasa kenyang muncul setelah minum kopi, apalagi kopimu manis. Manis kan memberikan energi juga dari gula, tapi setelah itu karena kamu tidak dapat (asupan) protein, akhirnya kamu nyari lagi (makanan) yang macam-macam,” kata dr. Diana.
Akibatnya, pola konsumsi bisa berulang: kopi manis diminum, lalu makanan lain dicari, termasuk camilan manis. Kebiasaan tersebut membuat asupan dari minuman dan makanan menumpuk tanpa terasa. Dalam penjelasannya, dr. Diana menyebut pola itu dapat membuat seseorang terus mencari sesuatu untuk dimakan setelah ngopi.
Kurangi pemanis dan perhatikan asupan protein
Pesan dr. Diana bukan berarti kopi harus dihindari sepenuhnya. Ngopi tetap diperbolehkan, tetapi pemanisnya perlu dikurangi. Perhatian juga perlu diberikan pada tambahan seperti sirop, krimer, dan topping yang membuat minuman lebih manis sekaligus meningkatkan jumlah kalorinya.
Ia menekankan pentingnya mencukupi asupan protein sebagai bagian dari pola makan yang tepat dan sehat. Dengan begitu, kopi tidak dijadikan pengganti makanan yang seharusnya memenuhi kebutuhan gizi. Perubahan kebiasaan dapat dimulai dengan memperhatikan apa saja yang masuk ke dalam gelas, bukan hanya makanan di piring.
Bagi orang yang sedang mengatur berat badan, mencatat kebiasaan minum kopi dapat membantu mengenali sumber kalori yang sering terlewat. Ukuran gelas dan bahan tambahan patut diperhatikan, terutama bila kopi manis menjadi rutinitas harian. Sebab, kenaikan berat badan tidak selalu berkaitan dengan porsi makan saja; minuman yang terasa ringan pun dapat memberi tambahan energi.
Kopi tetap bisa menjadi bagian dari keseharian, tetapi racikannya perlu disesuaikan dengan tujuan dan pola makan. Mengurangi pemanis serta menjaga kecukupan protein menjadi langkah yang disarankan dr. Diana, sembari tetap memperhatikan keseluruhan asupan, bukan hanya satu jenis makanan atau minuman.
