25.10.2026

Pekerjaan Administratif Paling Rentan Terdampak AI

Pekerjaan administratif dan berbasis proses dinilai paling berpotensi terdampak AI. Carlos Quaderi menekankan pentingnya adaptabilitas dan melihat peluang profesi baru dalam pengelolaan serta tata kelola AI.

pekerjaan-administratif-paling-rentan-terdampak-ai

Kecerdasan buatan (AI) diperkirakan paling terasa dampaknya pada pekerjaan administratif dan pekerjaan yang bertumpu pada proses. Namun, perubahan itu tidak serta-merta berarti seluruh profesi akan lenyap. Sejumlah pekerjaan dapat berubah, sementara kebutuhan terhadap peran baru juga berpotensi tumbuh seiring teknologi berkembang.

Hal tersebut disampaikan Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific Zoom, dalam wawancara di Go Work, Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/10/2026) petang. Menurut dia, karakter pekerjaan menjadi salah satu hal yang menentukan seberapa besar pengaruh AI terhadap peran yang dijalankan pekerja.

“Kalau sifatnya administratif atau berbasis proses, AI kemungkinan besar akan berdampak pada pekerjaan seperti itu,” kata Carlos. Ia tidak menyebut bahwa semua pekerjaan dalam kategori tersebut akan hilang. Dampak yang mungkin terjadi, menurutnya, mencakup perubahan pada pekerjaan yang ada maupun berkurangnya sebagian peran.

Pekerjaan berbasis proses menghadapi perubahan

Pernyataan itu menyoroti pekerjaan yang pelaksanaannya mengikuti proses atau pola administratif sebagai kelompok yang patut mencermati perkembangan AI. Namun, dampak teknologi tidak bisa dibaca hanya sebagai daftar profesi yang akan terhapus. Perubahan juga menyangkut cara pekerjaan dilakukan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankannya.

Carlos menggambarkan perubahan tersebut dengan melihat kembali perkembangan industri telekomunikasi. Pada masa lalu, industri itu mengenal operator telepon, operator switchboard, hingga pekerja yang menangani jaringan kabel. Seiring kemajuan teknologi, sebagian pekerjaan tersebut menghilang.

Meski demikian, industri telekomunikasi tidak berhenti berkembang. Pekerjaan yang tersedia berubah mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan baru. Bagi Carlos, pengalaman itu menunjukkan bahwa perubahan besar dapat menggeser peran manusia tanpa serta-merta mengakhiri seluruh kegiatan dalam suatu industri.

“Setiap kali teknologi disruptif muncul, selalu ada dampak terhadap manusia dan terhadap peran yang ada saat ini. Dan hal itu akan terus berlanjut,” ujarnya. Gambaran tersebut menjadi pengingat bahwa dampak AI perlu dilihat sebagai proses perubahan, bukan semata-mata ancaman hilangnya pekerjaan dalam waktu bersamaan.

Adaptabilitas menjadi bekal menghadapi AI

Perubahan itu, menurut Carlos, menuntut pekerja untuk bersiap. Kemampuan beradaptasi dinilai semakin penting karena perjalanan AI masih berada pada tahap awal dan bentuk teknologinya akan terus berkembang. Pekerja, dengan demikian, perlu memperhatikan bukan hanya teknologi yang tersedia sekarang, tetapi juga kemungkinan perubahan peran pada masa mendatang.

Ia memperkirakan wujud AI dalam tiga tahun mendatang akan berbeda dari kondisi sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan. Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan keterampilan juga tidak akan selalu tetap. Kemampuan untuk menyesuaikan diri menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat di tengah perubahan yang terus berjalan.

Pesan itu bukan ajakan untuk menghindari AI. Carlos justru menekankan pentingnya memahami bagaimana pekerja dapat tetap berperan ketika teknologi digunakan dalam pekerjaan. Pertanyaannya, kata dia, adalah apakah seseorang cukup adaptif dan bagaimana ia memusatkan perhatian pada pekerjaan yang memiliki unsur manusia lebih penting.

Dalam pandangan tersebut, kemampuan manusia tidak hanya dilihat dari tugas yang dapat dikerjakan, tetapi juga dari peran yang tetap memerlukan keterlibatan manusia. Karena teknologi berkembang dengan cepat, pekerja perlu mengevaluasi bagaimana keterampilan mereka dapat digunakan dalam lingkungan kerja yang berubah. Carlos tidak merinci jenis keterampilan tertentu, tetapi menempatkan adaptabilitas sebagai bekal utama.

Peluang profesi baru terkait tata kelola AI

Di sisi lain, AI juga diperkirakan mendorong munculnya pekerjaan baru. Carlos menyebut kebutuhan untuk mengelola dan mengawasi AI, termasuk memastikan penggunaannya berjalan dengan baik. Peran-peran itu dapat membentuk bidang pekerjaan baru seiring teknologi semakin banyak digunakan.

“Manusia akan berada dalam loop, mengelola AI, melakukan tata kelola AI. Akan ada seluruh industri yang muncul dari hal itu,” tuturnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa manusia tetap memiliki peran dalam penerapan teknologi, terutama ketika sistem perlu dikelola dan penggunaannya perlu diawasi.

Karena itu, pembicaraan mengenai pekerjaan terdampak AI tidak cukup berhenti pada profesi yang berisiko berubah. Perlu pula dilihat bagaimana pekerjaan baru muncul dan apa yang dibutuhkan untuk mengisi peran tersebut. Peralihan dari pekerjaan lama ke pekerjaan baru tentu menjadi tantangan, tetapi contoh industri telekomunikasi menunjukkan bahwa perubahan teknologi dapat berjalan seiring dengan berkembangnya jenis pekerjaan yang berbeda.

Bagi pekerja, langkah penting saat ini adalah bersiap menghadapi perubahan tanpa menganggap masa depan pekerjaan sudah ditentukan. AI masih berkembang, dan bentuk pengaruhnya dalam beberapa tahun ke depan belum tetap. Adaptabilitas serta perhatian pada aspek pekerjaan yang memerlukan keterlibatan manusia menjadi bekal untuk mengikuti perubahan itu.

Garisnegeri