Turis Israel di Thailand Picu Keluhan Warga
Kedatangan lebih dari 420 ribu warga Israel ke Thailand pada 2025 memicu keluhan warga, dari tuduhan bisnis ilegal hingga perselisihan tagihan.
Turis Israel di Thailand menjadi sorotan setelah kedatangan mereka meningkat dan memicu keluhan warga lokal. Laporan menyebut lebih dari 420 ribu warga Israel datang ke Thailand pada 2025, sementara sejumlah tuduhan soal bisnis ilegal, kepemilikan tanah, hingga perilaku terhadap pelaku usaha memperbesar keresahan di kalangan warga.
Jumlah Turis Israel di Thailand dan Alasan Kedatangan
Menurut laporan Times of Israel, lebih dari 420 ribu orang Israel mengunjungi Thailand pada 2025. Thailand disebut telah menjadi destinasi favorit bagi anak muda Israel setelah mereka menyelesaikan wajib militer.
Duta Besar Israel untuk Thailand, Alona Fisher-Kamm, mengatakan Eropa mungkin tidak lagi semenarik dahulu bagi wisatawan Israel. Ia menyebut para wisatawan tersebut berusaha menjauh sejauh mungkin dari konflik.
Namun, peningkatan kunjungan itu turut diikuti persoalan yang mencuat di ruang publik. Fisher-Kamm menilai terdapat kesenjangan budaya antara warga Israel dan Thailand. Ia juga mencatat adanya sejumlah kasus ketidakpekaan dan perilaku buruk.
Keluhan Warga atas Perilaku Turis Israel di Thailand
Warga Israel dituduh memiliki tanah secara ilegal, menjalankan bisnis ilegal, serta mendirikan tempat ibadah tanpa izin yang sah dari pihak berwenang. Kedatangan mereka juga dikaitkan dengan pembukaan pemakaman khusus Yahudi.
Dalam konteks pariwisata, setiap pengunjung tetap terikat pada aturan di negara tujuan. Kepatuhan terhadap hukum setempat, ketentuan usaha, dan tata krama saat berinteraksi dengan warga maupun pelaku usaha merupakan bagian mendasar dari perjalanan lintas negara. Perbedaan kebiasaan tidak menghapus kewajiban untuk menghormati wilayah dan masyarakat yang dikunjungi.
Isu turis Israel di Thailand pun memperlihatkan bahwa aktivitas wisata tidak hanya berkaitan dengan kunjungan ke tempat tujuan. Ada interaksi langsung dengan lingkungan, layanan usaha, serta aturan yang berlaku di lokasi. Karena itu, persoalan yang melibatkan wisatawan dapat berdampak pada kepercayaan antara pengunjung dan masyarakat setempat.
Insiden Rumah Chabad dan Pemeriksaan Bisnis Asing
Pada Juli, Kementerian Dalam Negeri Thailand memperluas penyelidikan terhadap bisnis asing. Langkah itu dilakukan setelah seorang turis Israel menantang pejabat dalam inspeksi di sebuah Rumah Chabad Yahudi.
Dalam peristiwa tersebut, turis itu mengatakan, “Apakah kalian tidak tahu ini adalah wilayah Israel?” Pernyataan yang diberitakan luas itu memicu tanggapan dari menteri dalam negeri Thailand.
Rumah Chabad dikenal sebagai tempat kegiatan komunitas Yahudi. Adapun pemeriksaan terhadap bisnis asing merupakan bagian dari pengawasan atas kegiatan usaha. Dalam kasus yang mencuat ini, pernyataan kepada pejabat saat inspeksi ikut menjadi perhatian karena menyangkut penghormatan terhadap kewenangan negara tempat kegiatan berlangsung.
Tagihan Tak Dibayar hingga Kebijakan Pelaku Usaha
Keluhan juga muncul dari pelaku usaha. Turis Israel terekam dalam video sedang bertikai dengan pemilik bisnis terkait tagihan yang belum dibayar. Peristiwa tersebut membuat beberapa bisnis menerapkan kebijakan “tidak menerima warga Israel”.
Tagihan merupakan kewajiban dalam transaksi antara pelanggan dan penyedia barang atau jasa. Perselisihan pembayaran dapat ditangani melalui komunikasi dan mekanisme yang berlaku, tetapi rekaman pertikaian yang beredar dapat memengaruhi hubungan antara pelanggan, pelaku usaha, dan komunitas di sekitarnya.
Kebijakan penolakan pelanggan berdasarkan kewarganegaraan muncul dalam situasi ketika pelaku usaha merespons pengalaman yang mereka anggap merugikan. Situasi semacam ini memperlihatkan pentingnya menjaga perilaku individual agar tidak berkembang menjadi ketegangan yang lebih luas terhadap kelompok wisatawan tertentu.
Poin Penting
- Lebih dari 420 ribu warga Israel datang ke Thailand pada 2025, menurut laporan Times of Israel.
- Thailand menjadi tujuan favorit anak muda Israel setelah menyelesaikan wajib militer.
- Warga Israel dituduh memiliki tanah dan menjalankan bisnis ilegal, serta mendirikan tempat ibadah tanpa izin yang sah.
- Kementerian Dalam Negeri Thailand memperluas penyelidikan bisnis asing setelah insiden inspeksi di Rumah Chabad Yahudi pada Juli.
- Sejumlah bisnis menerapkan kebijakan tidak menerima warga Israel setelah perselisihan mengenai tagihan belum dibayar.
Demonstrasi di Depan Kedubes Israel
Protes atas perilaku buruk turis Israel digelar di depan Kedutaan Besar Israel. Para pengunjuk rasa membawa tanda bertuliskan “Selamatkan Thailand” dan “Ini Bukan Tanah Perjanjian”. Ada pula plakat yang meminta warga Israel berperilaku baik di Thailand.
Salah seorang pemimpin demonstrasi, Sondhi, menyatakan, “Keramahtamahan tidak sama dengan penyerahan diri pada eksploitasi, dan kesopanan bukanlah izin terbuka bagi siapa pun untuk bertindak tanpa hukuman di tanah kedaulatan kita.” Pernyataan itu menegaskan tuntutan agar para pengunjung menghormati negara yang mereka datangi.
Pertanyaan Seputar Turis Israel di Thailand
Berapa jumlah warga Israel yang datang ke Thailand?
Menurut laporan Times of Israel, lebih dari 420 ribu warga Israel datang ke Thailand pada 2025.
Mengapa Thailand diminati anak muda Israel?
Thailand disebut menjadi destinasi favorit anak muda Israel setelah mereka menyelesaikan wajib militer. Fisher-Kamm juga mengatakan wisatawan Israel berusaha menjauh sejauh mungkin dari konflik.
Apa saja keluhan terhadap turis Israel di Thailand?
Keluhan mencakup tuduhan kepemilikan tanah ilegal, bisnis ilegal, pendirian tempat ibadah tanpa izin yang sah, serta perselisihan terkait tagihan belum dibayar.
Apa respons warga terhadap isu tersebut?
Demonstrasi digelar di depan Kedutaan Besar Israel, sementara beberapa bisnis menerapkan kebijakan tidak menerima warga Israel. Perkembangan turis Israel di Thailand kini berkaitan dengan tuntutan warga agar hukum, kewenangan, dan norma setempat dihormati.
