WMO: Kabut Asap Karhutla RI Bisa Bertahan Berbulan-bulan
WMO memperingatkan kabut asap dari karhutla Indonesia dapat bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. El Nino, kemarau, dan kerja sama ASEAN menjadi sorotan.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dapat menyelimuti sejumlah wilayah Asia Tenggara selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Direktur Kantor Regional Asia dan Pasifik WMO, Ben Churchill, mengatakan kondisi baru berpeluang membaik setelah arah angin berubah dan hujan membasahi lahan yang terbakar.
Peringatan itu disampaikan Churchill dalam wawancara dengan The Straits Times di kantor regional WMO di Tai Seng pada 16 Oktober. Ia menilai kombinasi musim kemarau dan fenomena El Nino yang sedang berlangsung membuat kawasan khatulistiwa ASEAN lebih kering dan panas, sehingga kebakaran lebih mudah bertahan serta meluas.
El Nino dan kemarau memperbesar risiko karhutla
Churchill menyebut El Nino yang berlangsung diperkirakan menjadi yang terkuat yang pernah diamati. Ketika kondisi tersebut beriringan dengan musim kemarau, situasinya mendukung kebakaran hutan dan lahan untuk terus terjadi. Praktik pembukaan lahan dengan cara tebas bakar juga dapat memicu kebakaran.
“Kami melihat semakin banyak hari dan jam dengan kualitas udara tidak sehat. Saya memperkirakan kondisi ini akan terus berlanjut,” kata Churchill, seperti dikutip The Straits Times.
Menurut Churchill, sekitar separuh kabut asap yang terdeteksi di dunia selama tujuh hari sejak 8 Oktober berasal dari Indonesia. Angka tersebut mengacu pada data Fire Emissions Watch, layanan pemantauan yang dijalankan melalui program Copernicus milik Uni Eropa dengan memanfaatkan data satelit dan sumber lainnya.
Besarnya porsi asap dari Indonesia memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di wilayah tempat kebakaran terjadi. Asap dapat terbawa melintasi batas negara, sementara perubahan angin dan turunnya hujan menjadi faktor penting dalam menentukan kapan kondisi mulai mereda.
Kualitas udara Singapura memburuk tanpa jeda
Dampak kabut asap lintas batas terlihat di Singapura. Negara itu mencatat 13 hari berturut-turut dengan Indeks Standar Polutan (PSI) dalam kategori tidak sehat—periode terpanjang tanpa jeda sejak krisis kabut asap pada 2015.
Kualitas udara masuk kategori tidak sehat apabila nilai PSI di salah satu wilayah Singapura melampaui 100 pada suatu waktu dalam sehari. Pada 17 Oktober, kondisi berkabut masih berlangsung. Nilai PSI 24 jam berada pada kategori tidak sehat, sedangkan pembacaan PM2.5 per jam tercatat tinggi.
Sehari sebelumnya, sejumlah fasilitas olahraga luar ruangan dan fasilitas ActiveSG yang tidak dilengkapi pendingin udara sempat ditutup sementara akibat kabut asap yang memburuk. Fasilitas tersebut kembali beroperasi pada 17 Oktober. Namun, The Kallang menyatakan Water Sports Centre menghentikan operasional mulai pukul 11.00 hingga pemberitahuan lebih lanjut karena jarak pandang buruk.
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, sebelumnya memperingatkan bahwa negaranya perlu bersiap menghadapi kabut asap berkepanjangan. Ia juga menyatakan kualitas udara berpotensi mencapai tingkat berbahaya.
WMO dorong kerja sama pemadaman di ASEAN
Churchill menilai sistem peringatan dini dan prakiraan yang dikerjakan bersama negara-negara kawasan dapat membantu masyarakat mengambil langkah untuk melindungi diri dari paparan asap. ASEAN, menurut dia, juga perlu menyusun langkah penanganan kebakaran agar kejadian serupa tidak berkembang separah saat ini.
Salah satu gagasan yang ia sampaikan ialah mengoordinasikan sumber daya pemadaman kebakaran untuk digunakan bersama oleh negara anggota ASEAN. Bentuknya dapat berupa investasi pada peralatan bersama, pertukaran keahlian teknis, serta pengaturan agar personel pemadam dari negara tetangga bisa segera dikerahkan saat diperlukan.
Dalam konferensi pers pada 16 Oktober, Fu mengatakan telah berkomunikasi dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Jumhur Hidayat. Singapura menawarkan bantuan sipil untuk mendukung pemadaman kebakaran dan pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca melalui penyemaian awan.
Churchill mengingatkan bahwa Indonesia kini menjadi perhatian, tetapi kebakaran serupa dapat terjadi di negara mana pun jika kondisi pendukungnya terpenuhi. Pemanasan global yang diperparah El Nino serta praktik pertanian sejenis di sejumlah negara Asia Tenggara turut menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Hujan monsun dinilai menjadi penentu
Untuk menggambarkan pentingnya kesiapan lintas negara, Churchill mencontohkan Australia, tempat ia pernah membantu mengoordinasikan penanganan kebakaran hutan. Australia memiliki kesepakatan timbal balik dengan Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Kanada yang memungkinkan personel serta peralatan pendukung dikerahkan dan dipadukan dengan cepat.
Di luar operasi pemadaman, Churchill mengatakan hujan monsun yang diperkirakan datang pada akhir tahun dapat menjadi faktor yang benar-benar memadamkan kebakaran. Sampai perubahan cuaca itu terjadi, kondisi angin dan hujan akan terus menentukan seberapa lama asap bertahan dan ke mana dampaknya bergerak. Kerja sama kawasan dan informasi kualitas udara yang akurat menjadi penting agar masyarakat serta petugas dapat bersiap menghadapi perkembangan situasi.
