25.10.2026

Tulungagung Catat 315 Kasus DBD, Dua Warga Meninggal

Dinkes Tulungagung mencatat 315 kasus DBD dalam sembilan bulan terakhir. Dua pasien meninggal pada September setelah terlambat dibawa ke layanan kesehatan.

tulungagung-catat-315-kasus-dbd-dua-warga-meninggal

Tulungagung mencatat 315 kasus demam berdarah dengue (DBD) dalam sembilan bulan terakhir, termasuk saat wilayah itu memasuki musim kemarau. Dua pasien meninggal dunia pada September setelah terlambat dibawa ke layanan kesehatan, menurut Dinas Kesehatan setempat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Tulungagung, Aris Setiawan, mengatakan kasus DBD masih ditemukan selama tiga bulan terakhir meski musim kemarau telah berlangsung. Data dinas mencatat 32 kasus pada Juli, 25 kasus pada Agustus, dan 23 kasus pada September.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa temuan DBD di Tulungagung belum berhenti pada bulan-bulan kemarau. Dinkes meminta warga tetap mewaspadai penyakit yang disebabkan virus dengue itu, sekalipun kondisi cuaca telah memasuki musim kering.

Kasus DBD tetap muncul pada musim kemarau

Aris menyampaikan bahwa dua pasien meninggal dunia akibat DBD pada September. Keduanya merupakan warga Kecamatan Boyolangu dan Kecamatan Gondang. Dinkes menyebut pasien tidak segera dibawa ke fasilitas kesehatan sehingga terlambat mendapatkan penanganan.

Aris menegaskan, persoalan pada dua kasus tersebut bukan keterlambatan tenaga medis dalam memberikan perawatan. Pasien baru dibawa ke layanan kesehatan setelah kondisinya membutuhkan penanganan, sehingga waktu untuk memperoleh pertolongan medis menjadi terlambat.

“Pasien terlambat dibawa ke layanan kesehatan, jadi bukan penanganan medis yang terlambat,” kata Aris.

Penjelasan itu menjadi perhatian bagi keluarga dan warga yang mendampingi orang sakit. Dinkes mengingatkan agar demam yang tidak membaik setelah diberi obat tidak dibiarkan berlarut-larut. Pemeriksaan di layanan kesehatan diperlukan ketika keluhan menetap atau kondisi pasien menimbulkan kekhawatiran.

Imbauan tersebut sejalan dengan catatan kematian pada September. Dalam kasus yang disampaikan Dinkes, keterlambatan membawa pasien menjadi faktor yang membuat mereka terlambat menerima penanganan medis. Karena itu, keputusan untuk mencari pertolongan kesehatan menjadi bagian penting dari kewaspadaan terhadap DBD.

Demam lebih dari tiga hari perlu diperiksa

Dinkes menyarankan masyarakat segera mendatangi layanan kesehatan apabila mengalami demam lebih dari tiga hari. Terutama jika demam telah diberi obat tetapi tidak kunjung membaik, warga diminta tidak hanya mengandalkan perawatan di rumah.

Aris juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan beristirahat cukup, minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi, dan berolahraga secara teratur. Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah menjaga kesehatan, berdampingan dengan kewaspadaan terhadap gejala yang perlu diperiksa tenaga kesehatan.

Upaya pencegahan di lingkungan tempat tinggal juga perlu mendapat perhatian. Warga diminta mengoptimalkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), langkah yang ditekankan Dinkes di tengah masih ditemukannya kasus DBD pada Juli, Agustus, dan September.

Data bulanan menunjukkan jumlah kasus yang tercatat menurun dari 32 pada Juli menjadi 25 pada Agustus, lalu 23 pada September. Namun, penurunan itu tidak berarti kewaspadaan dapat dihentikan: pada bulan terakhir tersebut, Dinkes masih mencatat kasus dan dua pasien meninggal dunia.

Dinkes mengajak masyarakat mempertahankan kebiasaan pencegahan dan memperhatikan perkembangan kondisi kesehatan anggota keluarga. Jika demam berlangsung lebih dari tiga hari atau tidak membaik setelah diberi obat, pemeriksaan sebaiknya segera dilakukan. Langkah cepat mencari pertolongan dan PSN tetap menjadi perhatian selama kasus DBD masih ditemukan di Tulungagung.

Garisnegeri