25.10.2026

Empat Musim Pertiwi: Perjuangan Pulang Menuju Oscar 2027

Putri Marino memerankan Pertiwi, perempuan yang pulang setelah 20 tahun di penjara dan berjuang menghadapi stigma. Film Kamila Andini ini mewakili Indonesia di Oscar 2027.

empat-musim-pertiwi-perjuangan-pulang-oscar-2027

Film Empat Musim Pertiwi membawa kisah seorang perempuan yang berusaha menata hidup setelah dua dekade terpisah dari kampung halamannya. Dibintangi Putri Marino dan Arya Saloka, film garapan Kamila Andini ini terpilih mewakili Indonesia dalam kategori Best International Feature Film di Academy Awards atau Oscar 2027.

Film produksi Fourcolours Films itu dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026. Ceritanya berpusat pada Pertiwi, perempuan yang pulang ke kawasan Pegunungan Tengger, Jawa Timur, setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun.

Pertiwi dipenjara setelah membunuh seorang pria ketika berusaha membela diri dari kekerasan seksual. Setelah bertahun-tahun pergi, ia berharap dapat memulai kembali kehidupannya di tempat yang pernah ia sebut rumah. Namun, kepulangan itu tidak serta-merta membuka jalan untuk berdamai dengan masa lalu.

Sinopsis Empat Musim Pertiwi: Pulang yang Tak Mudah

Keluarga dan warga desa menyambut Pertiwi dengan sikap dingin. Bahkan kedua orang tuanya tampak kesulitan menerima kembali putri mereka setelah sekian lama terpisah. Bagi Pertiwi, pulang berarti menghadapi lagi peristiwa yang membuat hidupnya berubah, sekaligus berhadapan dengan orang-orang yang masih memandangnya melalui masa lalu.

Di kampung halaman, ia bertemu kembali dengan Bisma (Arya Saloka), mantan kekasih yang kini telah berkeluarga. Pertemuan itu membangkitkan kenangan lama, tetapi Pertiwi tidak ingin kembali terseret ke hubungan dan persoalan yang pernah ia tinggalkan. Ia memilih menyusuri desa dan mencari orang-orang yang dahulu dekat dengannya.

Perjalanan itu mempertemukannya dengan Mak Ira (Christine Hakim), sosok yang pernah memberinya rasa nyaman. Mak Ira kini hidup dalam keterasingan karena latar belakangnya sebagai mantan pekerja seks. Ia bertahan di sebuah warung di kawasan padang pasir Pegunungan Tengger setelah tidak diterima masyarakat desa.

Pertiwi juga melihat keadaan Kuntet (Dwika Pradnyana), seorang berkebutuhan khusus yang dipasung karena dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Pengalaman orang-orang di sekitarnya menunjukkan bahwa mereka yang dianggap berbeda masih disingkirkan, sementara persoalan yang melingkupi desa seolah dibiarkan. Dari sana, Pertiwi menyaksikan kemunafikan yang belum banyak berubah selama 20 tahun kepergiannya.

Rumah Aman dan Perjuangan Melawan Stigma

Alih-alih hanya berusaha mendapatkan kembali tempatnya di tengah masyarakat, Pertiwi mengambil langkah untuk membantu orang lain yang mengalami penolakan. Ia berinisiatif membangun rumah aman bagi dirinya dan mereka yang membutuhkan ruang untuk hidup dengan lebih layak.

Keinginan itu tidak mudah diwujudkan. Pertiwi mesti berhadapan dengan stigma, trauma, hubungan keluarga yang berubah, serta lingkungan yang belum sepenuhnya bisa menerimanya. Pergulatannya menjadi inti cerita: bagaimana seseorang mencoba kembali berdiri ketika masyarakat terus mengingatkan dirinya pada masa lalu.

Film ini juga menempatkan kepulangan sebagai proses yang lebih rumit daripada sekadar kembali ke suatu tempat. Pertiwi perlu memahami kehidupan yang kini ia hadapi dan menentukan sendiri masa depan yang ingin dijalani. Kehadiran Mak Ira, Bisma, dan Niken (Hana Malasan) menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut, meski penerimaan tidak datang dengan cara yang sama dari semua orang.

Putri Marino dan Arya Saloka dalam Film Kamila Andini

Putri Marino memerankan Pertiwi, sementara Arya Saloka hadir sebagai Bisma dan Christine Hakim sebagai Mak Ira. Film ini juga dibintangi Iswadi Pratama sebagai ayah Pertiwi, Hargi Sundari sebagai ibu Pertiwi, serta Dwika Pradnyana sebagai Kuntet. Shofia Shireen memerankan Pertiwi muda.

Pertemuan Putri Marino dan Arya Saloka dalam film ini menjadi kolaborasi mereka setelah sebelumnya bermain bersama dalam serial Gadis Kretek. Di bawah arahan Kamila Andini, kisah Pertiwi bergerak melalui hubungan personal sekaligus gambaran tentang sikap masyarakat terhadap mereka yang dianggap berbeda.

Produser Ifa Isfansyah menilai cerita film tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap persoalan yang terjadi di Indonesia. Ia berharap isu yang diangkat dapat mengundang refleksi, baik bagi penonton dalam negeri maupun penonton dari negara lain. Menurutnya, konteks cerita itu penting untuk merepresentasikan Indonesia.

Terpilihnya Empat Musim Pertiwi sebagai film yang dikirim Indonesia ke Oscar 2027 menempatkan kisah Pertiwi di hadapan penonton internasional. Film ini dijadwalkan hadir lebih dulu di bioskop pada 8 Oktober 2026. Perjalanan Pertiwi melawan stigma pun menjadi salah satu cerita yang dapat diikuti penonton saat film tersebut dirilis.

Garisnegeri